Mendiagnosis, Cara Mencegah dan Mengobati Virus HIV dan AIDS

Setelah di artikel sebelumnya membahas mengenai pengertian HIV dan AIDS, cara penyebaran dan seperti apa gejala jika terinfeksi virus HIV, kali ini akan membahas mengenai diagnosis, pengobatan dan pencegahan HIV dan AIDS.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Virus HIV dan AIDS?

Jika seseorang beresiko terinfeksi virus HIV, maka hal yang harus dilakukan adalah melakukan tes HIV dengan cara melakukan tes darah. Tes darah yang dilakukan akan memudahkan mengetahui apakah  benar seseorang terinfeksi atau tidak. Hal ini seperti yang dibahas pada artikel sebelumnya bahwa virus HIV akan menyerang cairan-cairan tubuh seperti  darah, cairan sperma atau vagina dan juga ASI dari ibu yang terinfeksi.

Untuk mengetahui keakuratan tes darah ini tergantung pada waktu paparan terakhir untuk HIV semisal hubungan seks tanpa kondom dan juga berbagi jarum suntik saat menggunakan narkotika.

Cara Mencegah dan Mengobati Virus HIV dan AIDS

Selain melakukan tes darah, orang yang beresiko HIV juga harus melakukan konseling. Layanan tes HIV dan konseling disebut VCT atau Voluntary Counseling and Testing atau KTS (Konseling dan Tes HIV Sukarela).

Satu hal yang perlu di garis bawahi oleh orang yang beresiko HIV adalah, jangan ragu, malu atau takut untuk melakukan pengecekan atau tes HIV ini. Karena tes HIV bersifat sukarela dan rahasia.

Melakukan Konseling

Konseling sangat penting untuk diberikan kepada orang yang beresiko terinfeksi HIV sebab bertujuan untuk mengetahu seberapa besarkah tingkat resiko infeksi. Selain itu, pada saat konseling juga akan di ketahui bagaimana pola hidup keseharian dari orang yang beresiko. Apakah memang sering bertukar jarum suntik saat menggunakan narkoba, apakah sering berganti pasangan tanpa menggunakan pelindung, atau hal-hal lainnya.

Setelah konseling dilakukan, maka selanjutnya adalah melakukan tes darah. Seperti  yang telah disebutkan di atas tadi, virus HIV akan menginfeksi cairan tubuh. Nah, saat darah di periksa, hal ini tentu untuk memastikan adanya antibodi terhadap HIV di dalam sampel darah.

Antibodi adalah protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh. Antibodi merupakan sistem pertahanan tubuh melalui sistem kekebalan tubuh (imunitas) untuk membunuh dan menetralizir zat-zat asing yang masuk melalui tubuh dan bersifat membayahakan tubuh. Zat-zat asing yang di maksud seperti bakteri, virus, atau zat kimia lainnya.

Orang yang beresiko bisa terinfeksi virus setiap saat. Maka dari itu, sangat disarankan untuk melakukan tes HIV. Tes HIV ini tidak dilakukan sekali saja melainkan akan di ulang setiap 3 bulan. Jika seseorang melakukan aktivitas yang dicurigai bisa membuatnya tertular virus HIV, maka 3 bulan setelahnya hasil tes akan dilakukan tes lagi dan memungkinkan hasilnya akan lebih akurat lagi.

Melakukan Tes HIV dan AIDS

Di Indonesia, untuk melakukan tes HIV bisa dilakukan di beberapa rumah sakit atau klinik kesehatan. Jika memang seorang beresiko atau orang yang telah terinfeksi merasa membutuhkan bantuan atau support karena di jauhi lingkungan atau takut dan malu, mungkin bisa menghubungi beberapa yayasan dan organisasi yang memang fokus mengurusi permasalan HIV/AIDS, diantaranya yaitu:

  • Yayasan AIDS Indonesia
  • ODHA Indonesia
  • Komunitas AIDS Indonesia
  • HimpunanAbiasa
  • Yayasan Spiritia

Sementara itu, tidak hanya yayasan dan organisasi, lembaga pemerintah juga membentuk khusus untuk menangani HIV/AIDS yaitu Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN).

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) terbentuk pada bulan Mei tahun 1994 yang di tetapkan berdasarkan Keputusan Presiden 36/19941 yang setelahnya disusul dengan Strategi Nasional Penganngulangan AIDS yang pertama yaitu pada bulan Juni 1994.

Terbentuknya Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) oleh pemerintah karena  awal epidemi HIV dan AIDS di Indonesia di tahun 1987. Kasus HIV pertama di Indonesia terdapat di 364 dari 497 kabupaten/kota di seluruh provinsi kala itu. Kemudian muncul pertanyaan, di tahun tersebut, dikota manakah pertama kali kasus HIV ini ditemukan? Apakah Anda bisa menebaknya?

Tempat pertama kali ditemukannya virus HIV adalah pulau Bali. Apakah karena banyak bule disana sehingga bisa mendatangkan virus HIV? Intinya pada tahun 1987 kasus HIV ini pertama kali di temukan di pulau Bali. Sehingga dibentuklah Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN).

Apabila hasil dari tes yang dilakukan adalah positif, maka seorang yang terinfeksi akan di rujuk ke rumah sakit atau klinik spesialis HIV untuik mendapatkan penangan lebih lanjut.

Perlu di garis bawahi, seseorang yang positif HIV belum tentu memiliki AIDS. Tidak dapat dipastikan kapan seseorang akan mengalaminya, karena AIDS memang akan datang jika seorang terinfeksi tidak melakukan usaha-usaha untuk melambatkan laju virus.

Namun jika hasil dari tes adalah negatif kemudian setelah 3 bulan sejak kegiatan beresiko HIV dilakukan pengujian kembali dan hasilnya tetap sama, maka seseorang tidak memiliki infeksi HIV.

Bagaimana Cara Mencegah Virus HIV dan AIDS?

Sebenarnya mudah untuk menjawab pertanyaa yang ini. Cara terbaik mencegah terinfeksi virus HIV adalah tidak melakukan berbagi jarum suntik, melakukan hubungan seks yang aman, misalnya dengan tidak berganti-ganti pasangan, menggunakan alat pelin dung seperti kondom pria atau kondom wanita. Karena semua kegiatan yang berhubungan seks tidak sehat dan berbagi jarum suntik memiliki terkena HIV lebih tinggi dari pada yang melakukannya dengan aman.

Bagaimana Cara Mengobati Virus HIV dan AIDS?

Belum ditemukannya obat untuk menyembuhkan HIV bukan berarti seorang terinfeksi tidak bisa mengambil langkah pengobatan. Melakukan pengobatan memang tidak membuat virus HIV menghilang namun dapat memperlambat perkembang virus HIV yang berarti menambah usia hidup seorang penderita.

Ada beberapa obat-obatan yang dikenal mampu memperlambat perkembangan virus HIV yang berfungsi menghambat virus masuk ke dalam sistem kekebalan tubuh salah satu satunya yaitu Antiretroviral (ARV). Obat ini akan diberikan kepada orang yang terinfeksi dan diminum setiap hari.

Selain minum obat, orang yang terinfeksi HIV sangat disaranakan untuk mengubah pola hidup menjadi pola hidup sehat. Seperti tidak merokok, minum alkohol, mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, mendapatkan vaksin flu tahunan, serta vaksin pneukokus lima tahunan. Tujuan dari pemberian vaksin yaitu untuk mengurangi resiko terkena penyakit berbaya dan juga untuk mencegah terjadi AIDS.

Tanpa pengobatan seperti yang telah dijelaskan, sistem kekebalan tubuh seseorang akan menurun secara drastis. Hal ini akan membuat perubahan yang begitu besar terhadap berat badan dan lain-lain.

Pengobatan Stem Cell

Namun selain itu, sat ini dikenal pula Stem Cell untuk mengobati HIV. Untuk saat ini, diketahui bahwa Stem Cell adalah satu-satunya harapan baru bagi penderita HIV/AIDS. Sebab Stem Cell bekerja meningkatkan imunitas dalam tubuh sehingga dapat menghasilkan sel-sel darah putih yang dapat melawan virus HIV dan AIDS di dalam tubuh yang dilakukan secara alami.

Terapi menggunakan Stem Cell ini konon pernah digunakan pada orang yang menderita kanker darah dan HIV. Dengan cara tertentu tidak hanya kanker darah yang sembuh namun virus HIV juga menghilang sehingga menghentikan obat ARV. Namun biaya dari terapi Stem Cell ini sangat mahal berkisar 1 milyar rupiah. Selain itu, resikonya juga sangat tinggi karena dapat terjadi kematian akibat pencemaran kuman.

Di Indonesia, penelitian Stem Cell cukup maju. Terapi Stem Cell memerlukan dua tahap, yaitu produksi Stem Cell dan aplikasi Stem Cell untuk terapi. Produksi Stem Cell telah dapat dilakukan di beberapa pusat penelitian universitas dan institusi penelitian. Kementerian Kesehatan berusaha memajukan penelitian Stem Cell sekaligus melakukan pembinaan dan pengawasan untuk melindungi masyarakat.

Dokterku.co.id

Konten diatas merupakan layanan iklan dari DOKTERKU.co.id, Informasi layanan iklan dapat Anda baca di sini : www.dokterku.co.id/adv/