Tag: serangan jantung

  • Kim Sae Ron Meninggal akibat Henti Jantung, Kenali Tanda-tandanya

    Kim Sae Ron Meninggal akibat Henti Jantung, Kenali Tanda-tandanya

    Dokterku.co.id – JAKARTA – Kim Sae Ron meninggal akibat henti jantung . Menurut laporan dari Kantor Polisi Seongdong, Seoul, aktris 24 tahun itu mengalami serangan jantung sebelum akhirnya meninggal di area rumah sakit pada Mingguan (16/2/2025).

    Kim Sae Ron awalnya ditemukan temannya di kondisi kritis dalam kediamannya pada Seongdong-gu, Seoul. Dia pun melaporkan kejadian yang disebutkan terhadap pihak kepolisian. Ketika petugas tiba di area lokasi, merek menemukan sang aktris di kondisi kritis. Kim Sae Ron sempat dievakuasi ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Lalu, apa itu henti jantung?

    Mengenal Penyakit Henti Jantung

    Dikutip Mayoclinic, henti jantung adalah hilangnya semua aktivitas jantung secara tanpa peringatan akibat irama jantung yang tersebut tidak ada teratur. Pernapasan terhenti. Orang yang disebutkan menjadi tidaklah sadarkan diri. Tanpa penanganan segera, henti jantung mendadak dapat menyebabkan kematian.

    Perawatan darurat untuk henti jantung mendadak meliputi resusitasi jantung paru (CPR) serta kejutan ke jantung dengan alat yang mana disebut defibrilator eksternal otomatis (AED). Kelangsungan hidup dimungkinkan dengan perawatan medis yang tersebut cepat juga tepat.

    Henti jantung mendadak tidaklah sebanding dengan serangan jantung. Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke bagian jantung tersumbat. Henti jantung mendadak tidak lantaran penyumbatan. Namun, serangan jantung dapat menyebabkan pembaharuan aktivitas listrik jantung yang dimaksud menyebabkan henti jantung mendadak.

    Gejala Henti Jantung

    Gejala henti jantung mendadak bersifat dengan segera serta parah dan juga meliputi:
    Kolaps tiba-tiba.
    Tidak ada denyut nadi.
    Tidak ada pernapasan.
    Kehilangan kesadaran.
    Terkadang gejala lain muncul sebelum henti jantung mendadak. Gejala-gejala yang disebutkan dapat meliputi:
    Rasa tak nyaman di dalam dada.
    Sesak napas.
    Lemah.
    Detak jantung cepat, berdebar-debar, atau berdebar-debar yang mana disebut palpitasi.

    Kapan Harus ke Dokter?

    Saat jantung berhenti, kekurangan darah kaya oksigen dapat dengan cepat menyebabkan kematian atau kerusakan otak permanen. Hubungi 911 atau layanan medis darurat untuk gejala-gejala berikut:

    Nyeri dada atau rasa tak nyaman.
    Perasaan berdebar-debar di dalam dada.
    Detak jantung cepat atau bukan teratur.
    Mengi yang tersebut tidak ada dapat dijelaskan.
    Sesak napas.
    Pingsan atau hampir pingsan.
    Pusing atau pening.

    Jika Anda meninjau seseorang yang tidaklah sadarkan diri juga bukan bernapas, hubungi 911 atau layanan darurat setempat. Kemudian, mulailah CPR. American Heart Association merekomendasikan untuk melakukan CPR dengan kompresi dada yang digunakan keras dan juga cepat. Gunakan defibrilator eksternal otomatis, yang mana disebut AED, apabila tersedia.

    Cara Melakukan CPR

    Lakukan CPR jikalau orang yang dimaksud tidaklah bernapas. Tekan dada korban dengan kuat kemudian cepat — sekitar 100 hingga 120 kali per menit. Tekanan ini disebut kompresi. Jika Anda telah terjadi terlatih di CPR, periksa jalan napas korban. Kemudian berikan napas buatan pasca setiap 30 kali kompresi.

    Jika Anda belum terlatih, teruskan cuma kompresi dada. Biarkan dada mengembang sepenuhnya di dalam antara setiap tekanan. Terus lakukan ini hingga AED tersedia atau petugas darurat tiba.

    Defibrilator eksternal otomatis portabel, yang digunakan disebut AED, tersedia di tempat sejumlah tempat umum, termasuk bandara dan juga pusat perbelanjaan. Anda juga dapat membelinya untuk digunakan dalam rumah. AED dilengkapi dengan instruksi ucapan untuk penggunaannya. AED diprogram untuk memungkinkan kejutan listrik hanya sekali jikalau diperlukan.

  • Cara Membedakan Nyeri Dada lantaran GERD kemudian Serangan Jantung

    Cara Membedakan Nyeri Dada lantaran GERD kemudian Serangan Jantung

    Dokterku.co.id – JAKARTA – Cara membedakan nyeri dada sebab gastroesophageal reflux disease (GERD) kemudian serangan jantung dapat dikenal dengan memperhatikan gejala-gejala yang dimaksud muncul. Pasalnya, kedua kondisi ini menyebabkan gejala yang mana serupa.

    GERD juga serangan jantung dapat menyebabkan gejala yang mana serupa, seperti rasa terbakar atau tekanan pada dada. Oleh akibat itu, nyeri dada rutin kali memunculkan kegelisahan lantaran dapat menjadi tanda berbagai kondisi.

    Memahami perbedaannya sangat penting untuk mendapatkan penanganan yang tersebut tepat. “Nyeri lambung, nyeri ulu hati, gimana bedain GERD atau serangan jantung? Hal ini penting banget,” kata dokter spesialis jantung juga pembuluh darah, Dr. Vito Anggarino Damay, Sp.JP., M.Kes., FIHA., FICA, FAsCC disitir dari Instagram pribadinya, @doktervito, Hari Jumat (20/12/2024).

    “Jadi akhir-akhir ini sejumlah yang gelisah, dikarenakan ia pikir ini maag atau lambung aja. Padahal mungkin saja serangan jantung,” sambungnya.

    GERD adalah kondisi yang digunakan terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan, menyebabkan iritasi. Nyeri dada yang dimaksud disebabkan oleh GERD banyak kali menyerupai sensasi terbakar pada dada (heartburn) juga dapat disertai gejala seperti nyeri biasanya muncul pasca makan, khususnya makanan berlemak, pedas, atau asam.

    Pasien GERD juga rutin mengeluhkan rasa terbakar cenderung memburuk ketika berbaring atau membungkuk, disertai regurgitasi, yaitu cairan asam atau makanan kembali naik ke mulut, juga gejala dapat membaik setelahnya minum obat antasida.

    Gejala tambahan lainnya meliputi sensasi pahit atau asam pada mulut, kesulitan menelan (dysphagia), juga batuk kronis atau pendapat serak akibat iritasi asam lambung. Nyeri GERD biasanya berlangsung tambahan lama dibandingkan serangan jantung, mampu beberapa jam atau bahkan sepanjang hari.

    Sementara itu, serangan jantung terjadi akibat aliran darah ke otot jantung terhambat, biasanya sebab penyumbatan pada pembuluh darah koroner. Nyeri dada yang tersebut terkait dengan serangan jantung miliki karakteristik yang dimaksud berbeda serta kerap kali memerlukan perhatian medis segera.

  • Bethsaida Hospital Hadirkan Solusi Sumbatan Jantung

    Bethsaida Hospital Hadirkan Solusi Sumbatan Jantung

    Dokterku.co.id – JAKARTA – Di negara-negara maju, metode penanganan sumbatan pembuluh darah koroner sudah beralih dari penyelenggaraan stent (cincin/ ring jantung) ke balon berlapis obat atau DCB. Bahkan di dalam negara Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis, dan juga Italia, DCB pada saat ini mendominasi hingga 80-90% untuk penanganan perkara penyumbatan koroner.

    Tindakan ini telah beberapa tahun dijalankan pada Heart & Vascular Center Bethsaida Hospital Gading Serpong dengan keberhasilan yang mana sangat memuaskan.

    Bagaimana Pemasangan kemudian Cara Kerja DCB?

    Proses pemasangan DCB mirip dengan stent, tindakan diadakan di area ruangan kateterisasi (Cath Lab) dengan anestesi lokal yang tersebut dimasukkan melalui tangan atau paha kanan. Sumbatan yang ada dalam koroner akan dibuka menggunakan balon khusus agar sumbatan dapat dikurangi hingga ≤30%.

    Selanjutnya dengan menggunakan DCB; balon dikembangkan agar obat yang mana ada pada balon dapat ditempelkan pada dinding pembuluh darah yang dimaksud tersumbat. Setelah itu, balon ditarik keluar. Jadi tak ada benda asing yang mana ditinggalkan di tubuh pasien.

    Seiring berjalannya waktu, obat yang tertinggal di area pembuluh darah koroner dengan dengan perbaikan pola hidup (lifestyle) akan menunjang tubuh pasien untuk menghilangkan sumbatan yang digunakan tersisa dan juga melebarkan pembuluh darah koroner melalui proses yang mana disebut Konstruktif Remodelling juga Late Lumen Enlargement.

    Dalam waktu 6-9 bulan diharapkan pembuluh darah koroner yang diobati dapat kembali menjadi normal kembali.

    Keuntungan Pengaplikasian DCB Dibandingkan Stent

    1. Tidak meninggalkan benda asing apapun di tubuh pasien.
    2. Risiko Restenosis (penyumbatan kembali pada pembuluh darah koroner yang sudah diobati) lebih besar rendah dan juga lebih besar mudah diperbaiki apabila terjadi.
    3. Memberikan kesempatan pada pasien agar memiliki pembuluh darah yang dimaksud dapat mengecil lalu melebar sesuai dengan fungsi pembuluh darah sebagaimana semestinya (fungsi vasomotor).
    4. Jika suatu ketika pasien memerlukan tindakan bypass maka tidaklah akan ada faktor yang mana menghalangi seperti pada pemasangan stent dengan metal.
    5. Pemanfaatan obat pengencer darah yang lebih banyak aman dengan dosis obat yang lebih lanjut kecil juga pengaplikasian dua macam obat pengencer yang lebih tinggi singkat, apalagi apabila dikombinasikan dengan diet D-Nutritarian.
    6. Lebih aman untuk pasien dengan risiko perdarahan seperti luka lambung, wasir lalu untuk pasien yang ingin menjalankan operasi gigi atau tindakan invasif lainnya seperti gastroskopi lalu kolonoskopi. Juga lebih lanjut aman untuk pasien-pasien yang kurang taat pada meminum obat berkesinambungan khususnya pengencer darah.
    7. Pilihan ideal untuk pasien yang berusia muda atau pasien yang masih terlibat bekerja oleh sebab itu struktur pembuluh darah dipertahankan seperti aslinya.
    8. Dapat digunakan untuk jangka panjang dan juga tiada ada batasan jumah DCB yang digunakan oleh sebab itu bukan ada benda asing yang dimaksud ditinggalkan.
    9. Siap untuk teknologi masa depan seperti rekayasa genetika atau pemakaian artificial intelligence sebab pembuluh darah masih dipertahankan strukturnya seperti sedia kala.
    10. Pekerjaan tindakan menjadi lebih lanjut mudah dan juga dampak radiasi menjadi lebih banyak kecil.
    11. Pembuluh darah koroner diberikan kesempatan untuk menjadi besar mengalami yang mana disebut dengan positif remodeling dan juga memberikan kesempatan agar plak menjadi kecil yang digunakan disebut regresi. Terutama jikalau dikombinasikan dengan diet D-Nutritarian.
    12. Risiko terjadinya alergi terhadap metal seperti pada pemasangan stent serta radang menahun (inflamasi kronis) dapat dihindari.

  • Bahaya Menahan Bersin

    Bahaya Menahan Bersin

    Dokterku.co.id – JAKARTA – Bersin terjadi ketika tubuh merasakan sesuatu yang mana seharusnya tiada ada pada hidung Anda. Jika bakteri, serbuk sari atau debu masuk ke hidung, maka hidung akan terasa geli atau bukan nyaman dan juga tak lama kemudian, menyebabkan bersin.

    Hanya saja, terkadang seseorang menahan bersin , baik ketika dalam transportasi umum atau pada waktu berbicara dengan orang lain. Masalahnya, menahan bersin dapat menyebabkan komplikasi kondisi tubuh serius.

    Lalu, apa belaka hambatan kondisi tubuh dari menahan bersih ini? Dikutip star insider, berikut ulasan menahan bersin bagi kesehatan.

    Mengapa bersin terjadi?

    Bersin terjadi pada waktu tubuh merasakan sesuatu di dalam hidung yang digunakan seharusnya tiada ada. Biasanya, benda ini sebagai serbuk sari, debu, bakteri, kotoran atau asap.

    Nah, dengan bersin, hal ini menjaga dari Anda jatuh sakit atau terluka akibat benda-benda yang tersebut masuk ke hidung.

    Saat partikel asing masuk ke hidung, partikel yang dimaksud dapat berinteraksi dengan rambut halus dan juga dermis halus yang tersebut melapisi saluran hidung.

    Saat lapisan hidung merasakan zat asing, maka hidung mengirimkan sinyal listrik ke otak yang mana memerintahkannya untuk membersihkan hidung.

    Sementara, pada waktu otak memberi tahu tubuh bahwa sudah ada waktunya bersin, tubuh mempersiapkan diri untuk kontraksi semata-mata pada beberapa detik. Lidah bergerak ke langit-langit mulut, otot-otot menegang, serta mata dipaksa menutup.

    Bersin memaksa air, lendir serta udara mengundurkan diri dari dari hidung dengan kecepatan hingga 160 km/jam (99,4 mph). Penghabisan berlangsung cuma selama 150 milidetik.

    Pada 2012, para peneliti dari Universitas Pennsylvania menemukan bahwa bersin “mengatur ulang” silia, sel-sel yang digunakan melapisi jaringan di area pada hidung.

  • Olahraga Lari Bisa Picu Serangan Jantung bagi Orang dengan Riwayat Penyakit Kardiovaskular

    Olahraga Lari Bisa Picu Serangan Jantung bagi Orang dengan Riwayat Penyakit Kardiovaskular

    Dokterku.co.id – JAKARTA – Lari merupakan jenis olahraga yang digunakan mempunyai khasiat terhadap kebugaran jantung. Pasalnya, olahraga satu ini mampu meningkatkan detak jantung lalu fungsi pompa jantung, sehingga darah dapat tersalurkan ke seluruh tubuh serta sirkulasi darah meningkat.

    Hal ini tentu bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan otot jantung, mengempiskan risiko pembekuan darah, juga mengoptimalkan fungsi jantung. Bahkan, sebagian penelitian menunjukkan bahwa orang yang tersebut rutin berolahraga lari mempunyai risiko yang lebih besar rendah terkena penyakit jantung.

    Meski begitu, masih sejumlah anggapan yang digunakan beredar bahwa orang yang sudah miliki riwayat penyakit jantung sebaiknya menghindari olahraga lari. Benarkah demikian? Berikut ulasannya, menyampaikan dari berbagai sumber.

    Pada prinsipnya, olahraga adalah salah satu cara mengurangi berbagai macam penyakit jantung, tidaklah terkecuali lari. Namun olahraga ada aturannya.

    Orang tidak ada mampu sembarangan berolahraga, teristimewa bila ada kondisi medis tertentu yang dimaksud dapat terpicu akibat aktivitas olahraga yang mana dilakukan.

    Orang yang digunakan berisiko terkena serangan jantung ketika berolahraga umumnya memang sebenarnya sudah ada mengidap penyakit jantung serta pembuluh darah sebelumnya. Menurut beberapa jumlah penelitian, olahraga rutin bisa jadi menguatkan jantung kemudian menurunkan risiko kesulitan kardiovaskular. Tapi olahraga berlebihan, salah satunya lari, akan meningkatkan risiko serangan jantung juga henti jantung mendadak.

    Hal ini khususnya berlaku buat orang-orang yang digunakan punya risiko serangan jantung sebelumnya, baik akibat gaya hidup kurang sehat maupun faktor keturunan.

    Sebuah penelitian terhadap beberapa orang pelari maraton menemukan bahwa darah mereka mengandung penanda biologis (biomarker) yang tersebut terkait dengan kehancuran jantung. Temuan ini didapatkan setelahnya para pelari menuntaskan lomba lari ekstrem. Indikator kehancuran jantung itu biasanya sirna dengan sendirinya.

    Namun, bila jantung mengalami tekanan fisik berulang, kehancuran yang digunakan temporer bisa jadi mengakibatkan inovasi fisik pada jantung, misalnya dinding jantung lebih tinggi tebal atau terbentuk luka pada jantung.

  • Teknologi Skrining Jantung Bethsaida Hospital, Hal ini Bedanya CT Scan serta Kateterisasi

    Teknologi Skrining Jantung Bethsaida Hospital, Hal ini Bedanya CT Scan serta Kateterisasi

    Dokterku.co.id – JAKARTA – Penyakit Jantung , telah sangat dikenal dikalangan penduduk dengan sebutan “Silent Killer”. Sebutan ini tentunya mempunyai dasar yang digunakan kuat, lantaran serangan jantung rutin kali terjadi tanpa adanya gejala apapun lalu merupakan salah satu faktor kematian tertinggi di dalam Indonesia. Fakta ini menegaskan betapa pentingnya pemeriksaan dini untuk mengetahui prospek terjadinya serangan, kelainan atau gangguan jantung.

    Bethsaida Hospital Gading Serpong melalui Heart & Vascular Center (Pusat Layanan Unggulan Jantung juga Pembuluh Darah) tidak ada hanya saja fokus pada pelayanan kuratif, tetapi juga pada langkah pencegahan yang mana dapat menghindari komplikasi akibat penyakit jantung koroner dan juga serangan jantung.

    Skrining kemudian diagnosis penyakit jantung koroner dapat dipastikan melalui dua cara, yaitu CT Scan Cardiac serta Kateterisasi Jantung. Kedua metode ini memiliki peran krusial, namun diaplikasikan di situasi yang tersebut berbeda. dr. Yudistira Panji Santosa, Sp.PD-KKV, (M.Kes), Dokter Spesialis Penyakit Dalam lalu Konsultan Kardiovaskular (Intervensi) di dalam Bethsaida Hospital, memberikan penjelasan lebih tinggi lanjut mengenai kedua prosedur ini.

    CT Scan Jantung: Pemeriksaan Non-Invasif dengan Teknologi Lanjutan Berbasis AI

    CT Scan Jantung adalah pemeriksaan non-invasif yang dimaksud menggunakan teknologi tomografi terkomputerisasi untuk memunculkan gambar 4D dari jantung lalu pembuluh darah. Bethsaida Hospital sudah pernah dilengkapi dengan CT Scan 512 Slice berbasis Teknologi AI (Artificial Intellegence) yang dimaksud memungkinkan pemeriksaan ini dapat diadakan dengan lebih lanjut cepat lalu akurat (teknologi One Heartbeat Scan), juga menghasilkan kembali gambar pencitraan jantung dengan resolusi tinggi, namun dengan tingkat radiasi yang dimaksud minim.

    Pemeriksaan ini memberikan pandangan yang tersebut detail tanpa perlu memasukkan alat ke di tubuh. CT Scan Jantung rutin digunakan untuk mendeteksi penyempitan arteri koroner lalu menilai kondisi tubuh jantung secara keseluruhan.

    Dalam dunia medis yang mana terus berkembang, teknologi canggih memainkan peran penting pada meningkatkan kualitas diagnosis dan juga perawatan. Salah satu perubahan terbaru Bethsaida Hospital pada bidang pencitraan medis adalah teknologi CT Scan Revolution Apex Elite 512 Slice yang menawarkan berbagai kelebihan juga kegunaan yang sangat menguntungkan, teristimewa pada pemeriksaan jantung

    “CT Scan Jantung adalah pilihan yang tersebut sangat baik untuk pasien yang dimaksud membutuhkan evaluasi jantung secara cepat serta tidak ada invasif. Dengan teknologi ini, kami dapat mendeteksi kesulitan jantung lebih banyak awal kemudian menentukan langkah penanganan yang tepat,” tambah dr. Yudistira.

    Kateterisasi Jantung: Prosedur Invasif Berbasis Kecerdasan Buatan untuk Diagnosis Mendalam

  • Bethsaida Hospital Hadirkan Layanan Bedah Jantung Minimal Invasif

    Bethsaida Hospital Hadirkan Layanan Bedah Jantung Minimal Invasif

    Dokterku.co.id – JAKARTA – Heart & Vascular Center Bethsaida Hospital menghadirkan pembaharuan pada penanganan permasalahan jantung lalu pembuluh darah dengan memperkenalkan layanan Bedah Jantung Minimal Invasif yang tersebut dilaksanakan oleh dr. Wirya Ayu Graha, Sp.BTKV, Subsp. JD, Dokter Spesialis Bedah Toraks serta Kardiak Vaskular, Subspesialis Bedah Jantung Dewasa.

    Teknik bedah ini (operasi by pass juga katup jantung minimal invasive) merupakan salah satu layanan unggulan dari Heart & Vascular Center Bethsaida Hospital selain tindakan medis intervensi jantung seperti pemasangan stent pada pembuluh darah jantung kemudian yang tersebut terbaru dengan menggunakan DEB (Drug Eluted Baloon) atau tindakan jantung lainnya.

    Bedah Jantung Minimal Invasif belum berbagai dijalankan di dalam Indonesia lalu dirancang khusus untuk memberikan alternatif penanganan yang digunakan lebih besar aman, nyaman kemudian efisien bagi pasien yang dimaksud memerlukan operasi jantung, dengan masa pemulihan yang dimaksud lebih banyak singkat. Prosedur ini juga membutuhkan pelatihan dan juga sertifikasi lantaran menggunakan teknik yang memerlukan keahlian khusus dari dokter operator.

    Apa Itu Bedah Jantung Minimal Invasif?

    Bedah jantung minimal invasif adalah prosedur yang digunakan dijalankan melalui satu atau tambahan sayatan kecil di area tubuh, berbeda dengan operasi jantung terbuka yang digunakan biasanya melibatkan satu sayatan panjang di dalam bagian depan dada. Dalam prosedur ini, ahli bedah menggunakan kamera juga alat-alat khusus yang dimasukkan melalui sayatan.

    Alat-alat khusus yang dimaksud kemudian diarahkan di area antara tulang rusuk untuk mencapai jantung. Teknik minimal invasif ini dapat menawarkan keuntungan seperti bekas luka yang dimaksud lebih besar sedikit, rasa nyeri yang dimaksud tambahan ringan, juga pemulihan yang tersebut lebih besar cepat dibandingkan dengan operasi jantung terbuka, yang digunakan biasanya memerlukan pemotongan tulang dada untuk mengakses jantung.

    “Teknik bedah ini memberikan sejumlah faedah bagi pasien, termasuk menghurangi risiko infeksi, mengempiskan nyeri pasca operasi, juga mempercepat waktu pemulihan. Dengan pendekatan minimal invasif, kami dapat memberikan perawatan yang tersebut lebih tinggi optimal juga menggalang kualitas hidup pasien pasca operasi, seperti bisa saja lebih tinggi cepat kembali bekerja,” kata dr. Wirya Ayu Graha, Sp.BTKV, Subsp. JD.

    Kondisi Apa yang Bisa Ditangani dengan Bedah Jantung Minimal Invasif?

    Bedah jantung minimal invasif dapat direkomendasikan untuk menangani beberapa kondisi atau keluhan berikut:

  • Kenali Perbedaan Maag serta Serangan Jantung, Gejalanya Nyaris Sama

    Kenali Perbedaan Maag serta Serangan Jantung, Gejalanya Nyaris Sama

    Dokterku.co.id – JAKARTA Serangan jantung kerap disalahartikan sebagai sakit maag sebab gejalanya nyaris sama. Kedua kondisi ini sama-sama menyebabkan penderitanya mengalami nyeri dada.

    Dilansir dari Times of India, hari terakhir pekan (30/8/2024), Ahli Gastroenterologi Dr. Rajeev Jayadevan menyatakan bahwa maag adalah sensasi terbakar dalam belakang tulang dada dalam bagian sedang dada.

    Hal ini umumnya disebabkan oleh kembalinya cairan asam dari lambung ke pada saluran pencernaan, yang dimaksud dikenal sebagai refluks asam. Di sisi lain, kecacatan pada otot jantung akibat penyumbatan pada suplai darah jantung dikenal sebagai serangan jantung.

    Sensasi terbakar cenderung terjadi setelahnya makan dan juga lebih lanjut parah ketika berbaring. Pada beberapa tindakan hukum banyak disertai dengan air liur yang tersebut berlebihan kemudian makanan yang mana ditelan akan kembali ke bagian belakang tenggorokan.

    Namun, nyeri dada atau angina akibat serangan jantung, yang disebabkan oleh penyumbatan sebagian arteri koroner, lebih tinggi intens kemudian kerap kali disertai keringat juga muntah. Nyeri ini bertambah parah ketika beraktivitas dan juga berkurang pada waktu beristirahat.

    Nyeri dapat menjalar ke leher, bahu, atau lengan. Nyeri ini lebih tinggi banyak terjadi pada orang dengan faktor risiko koroner seperti merokok, diabetes, lalu hipertensi. Gejalanya terkadang dapat disalahartikan.

    Jika seseorang yang tersebut mengalami serangan jantung tidak ada mencari pertolongan medis dengan menganggap bahwa itu hanya saja nyeri akibat maag, komplikasi serius dapat terjadi. Jika ragu, lebih banyak aman untuk menyingkirkan kemungkinan hambatan jantung terlebih dahulu.

    Di sisi lain, semakin tua usia seseorang, semakin besar kemungkinan nyeri dada yang disebabkan oleh kesulitan jantung yang mana mendasarinya. Perubahan gaya hidup dapat membantu mengatasi refluks asam lambung.

    Seseorang perlu menghindari makan tidaklah teratur atau tidaklah tepat waktu, makanan berminyak, kopi, alkohol, menjaga berat badan, lalu mengonsumsi makanan yang digunakan seimbang.

  • 5 Mitos lalu Fakta Pertolongan Pertama, Benarkah Orang yang mana Serangan Jantung Harus Dibaringkan?

    5 Mitos lalu Fakta Pertolongan Pertama, Benarkah Orang yang mana Serangan Jantung Harus Dibaringkan?

    Dokterku.co.id – JAKARTA – Ada berbagai situasi potensial, dalam mana Anda mungkin saja harus memberikan pertolongan pertama terhadap orang lain. Sementara, kita butuh pengetahuan dasar tentang apa yang digunakan harus dilaksanakan pada situasi darurat.

    Sayangnya, ada banyak mitos tentang pertolongan pertama bagi mereka itu yang sakit atau terluka. Paling banter, mitos-mitos ini sanggup menyakitkan, tetapi di area sisi lain, beberapa mungkin saja menjadi pembeda antara menyelamatkan serta kehilangan nyawa. Jadi, Anda perlu mengetahuinya.

    1. Automated External Defibrillators (AED)
    Mitos: AED rumit untuk digunakan.
    AED adalah perangkat elektronik kecil juga portabel yang mana kemungkinan besar terlihat rumit, tetapi sebenarnya mudah digunakan.

    AED dapat mendiagnosis kondisi jantung yang dimaksud mengancam jiwa juga mengobatinya dengan sengatan listrik dengan defibrilasi, yang digunakan membantu memulihkan irama jantung.

    Jika orang yang digunakan dirawat bukan memerlukan sengatan listrik, defibrilator bukan akan melakukannya. Dengan kata lain, bukan kemungkinan besar untuk melukai seseorang apabila dia bukan membutuhkannya. Namun, jikalau merek membutuhkannya, Anda meningkatkan potensi mereka untuk bertahan hidup secara signifikan.

    2. Pingsan
    Mitos: Jika seseorang merasa ingin pingsan, merek harus meletakkan kepala mereka itu di area antara lutut.

    Ada risiko orang yang merasa pingsan bisa saja jatuh kemudian melukai diri dia sendiri di prosesnya.

    Seseorang yang akan pingsan biasanya akan merasa mual, pusing, pucat kemudian berkeringat. Sebaiknya merekan berbaring sepenuhnya.

    3. Serangan jantung
    Mitos: Jika seseorang mengalami serangan jantung, Anda harus membaringkannya.